Siap Siaga untuk Perdamaian

Oleh Mikhail Roshchin

Nastasia Roshchina, age 17 tempera

Diana Mamieva, age 15 watercolor

Pada tahun 1999 musim gugur sangat dingin. Akhir bulan Oktober, Perang Kedua di Chechnya sudah berkobar selama satu bulan. Kota Moskow tetap tenang dan damai, meskipun kedatangan para pengungsi yang keluar dari Chechnya. Tidak ada yang memprotes perang kali ini. Baru-baru ini banyak ledakan-ledakan yang terjadi di Moskow, dan sebagian besar menyalahkan Chechnya. Pada saat itu, orang baru mulai menyadari bahwa kejadian yang menyedihkan melanda seluruh bangsa, dan garis keturunan tidak mungkin mampu untuk merukunkan kembali antara Rusia dan Chechnya.

Saat itu aku prihatin dan merasa cemas karena aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku menelepon Victor Popkov, seorang penatua yang sangat beriman. Victor telah bekerja keras selama perang pertama di Chechnya. Dia menyalurkan bantuan kemanusiaan, mengatur pertukaran tahanan, dan sebagai pengawas dari gencatan senjata yang terjadi pada musim panas tahun 1995. Kami berdua menyadari bahwa saat ini tidak akan ada warga yang menentang perang. Pers menyuarakan: “Biarkan tentara kita menyelesaikan pekerjaannya sampai selesai!” Tetapi tidak ada yang menjelaskan apa maksudnya.

Victor mengusulkan aksi mogok makan sebagai solidaritas damai untuk orang-orang Chechnya. Kami memilih motto Rusia kuno Pangeran Alexander Nevsky. “Tidak dengan kekuatan ! O Tuhan, tetapi dengan kebenaran.” Kami mulai beraksi di Moskow di samping batu Malo Solovetsky, yang dibawa dari Solovki, di mana Stalin mendirikan sebuah kamp besar bagi tahanan politik. Kami mengikat spanduk di batu. Di balik batu, yang tingginya melebihi manusia, kami berlindung dari terjangan angin dingin yang membuat spanduk tersebut melambai-lambai seperti layar.
Aksi mogok makan memang berat. Kami tidak makan berhari-hari, hanya minum air panas di gedung dekat Tugu Peringatan milik sebuah organisasi hak asasi manusia.

Didekat batu Solvetsky, kami mendirikan tenda dari plastik. Di sini, di atas meja lipat kecil, kami meletakkan buku dan simbol renungan. Kami berdo’a untuk semua orang, baik orang Chechnya maupun Rusia, orang Kristen maupun Islam yang tewas dalam perang.
Kami mencoba menjelaskan kepada siapapun yang menghampiri kami tentang apa yang kami lakukan dan mengapa kami melakukannya. Kami memang mendapat dukungan dari banyak orang. Dan sampai hari ini, saya masih teringat seorang wanita yang datang dari luar kota hanya untuk menemui kami.

Sembilan hari setelah aksi mogok makan saya digantikan oleh teman saya, orang Quaker dari Moskow bernama Sasha Gorbenko. Saya meminta dia mengambil peran aktif dalam aksi kami dan melakukan mogok makan paling sedikit satu minggu. Dia setuju dan melanjutkan mogok makan selama 43 hari, sampai pemilihan Duma (Majelis Legislatif) Rusia. Sasha mengikuti kegiatan kami dengan sepenuh hati. Dia terpanggil dengan komitmen spiritual yang mendalam, ketika darah ditumpahkan ke dunia, dan orang-orang yang tidak bersalah dibunuh. Hasil perjuangan kami memang tak seberapa, tetapi kami merasa lebih baik melakukannya daripada hanya diam melihat kejahatan demi kejahatan dilakukan atas nama kami (Maksut saya atas nama orang-orang Rusia).

Setelah lima minggu aksi berlangsung, Victor Popkov pergi ke Chechnya untuk bertemu Presiden Alslan Maskhadov. Victor percaya dengan menemui Presiden akan bisa menghentikan tindakan militer. Pada tanggal 3 Desember tahun 1999, dia terbang ke Sleptsovky di Ingushetia. Orang-orang Chechnya menerima Victor dengan hormat, orang yang bermaksud baik meskipun berbeda agama. Victor berkeliling ke desa-desa Urus-Martan dan Valerik, tetapi ia tidak dapat melintasi garis pertahanan untuk mencapai wilayah luar yang dikendalikan oleh kekuatan pasukan Federal.

Selama musim dingin tahun 2000, Victor bisa melakukan perjalanan ke Chechnya dua kali. Dia membawa uang untuk membeli tepung yang dibagikan ke desa-desa. Ketika musim semi tiba, dia akhirnya bisa bertemu dengan Presiden Chechnya, Alslan Maskhadov, tetapi jalan untuk menyelesaikan perdamaian ternyata lebih sulit dari yang diharapkan. Setiap hari perang semakin menaburkan bibit kebencian.
Tetapi saya tetap percaya hanya dengan menyingkirkan kebencian dari hati maka kita dapat saling mengunjungi satu sama lain. Hanya dengan cara ini kita bisa belajar bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada perdamaian.