Power of Goodness

Menyiangi Ladang

Oleh Musa Akhmadov

Alieva Zulikhan, age 18

Alieva Zulikhan, age 18

Unknown

Kejadian ini terjadi setelah beberapa santri menyiangi ladang jagung milik Ustaz Kunta-Khadji. Mereka tidak memberitahukan rencana tersebut pada Ustaznya, karena mereka tahu Ustaz Kunta-Khadji adalah orang yang sangat baik. Mereka justru menunggu beliau pergi, kemudian mereka berangkat ke ladang yang terletak di sepanjang tepi hutan.

Saat itu terjadi di awal musim panas. Tetes embun menggantung di atas rumput, dan daun-daun berkilau diterpa sinar matahari. Di pagi yang segar itu, terdengar suara kicauan berbagai aneka burung. Jangkrik juga ikut bernyanyi di rerumputan, seakan-akan mereka sedang berlomba.

Para santri juga menyanyikan lagu-lagu mereka sambil menyiangi ladang jagung milik Ustaznya. Mereka membersihkan gulma dengan mudah dan cepat. Tunas jagung tumbuh menjulurkan batangnya menuju arah matahari, bergoyang ditiup angin.

Mereka sangat senang dengan hasil pekerjaannya. Setelah istirahat sejenak kemudian mereka bekerja lagi. Tiba-tiba Ustaz Kunta-Khadji datang memberi salam dan memperhatikan apa yang mereka lakukan. Para Santri menghentikan pekerjaannya lalu datang menyalami secara bergantian sambil menatap Ustaz.

“Apa yang kalian lakukan? Siapa yang menyuruh menyiangi ladangku?” tanya Kunta-Khadji.

Para santri merasa bersalah, “Tidak ada, kami hanya ingin membantu Ustaz.”

“Aku masih kuat menyiangi sendiri. Jika sudah tidak kuat, aku baru minta bantuan kalian. Sekarang ambilah cangkulmu dan kemarilah. Semua jagung yang tumbuh di ladang yang kalian siangi menjadi milik kalian. Pada musim gugur nanti, kesini dan ambilah.”

Suara Ustaz Kunta-Khadji terdengar kecewa dan kesal.

Para santri mematuhi gurunya tanpa menyanggah. Tetapi mereka agak sakit hati, karena Ustaz menolak dibantu. Ustaz Kunta-Khadji duduk di tempat teduh diikuti para santri dengan duduk melingkar. Beliau mulai berkata:”Jangan marah pada Ustaz. Demi Allah, Ustaz hanya memakai jasa dari buruhku sendiri. Jadi mohon maaf jika telah mengecewakan kalian.”

Para santri sangat terharu. Mereka berlinangan air mata.

“Kenapa Ustaz yang meminta maaf? Justru kami yang minta maaf karena kami datang ke ladang tanpa seijin Ustaz,” jawab mereka.
“Semoga Allah mengampuni kalian – seperti yang sudah Uztad lakukan! Sekarang mari kita mencicipi roti jagung sambil berbincang-bincang.”
Setelah itu, Ustaz Kunta-Khadji membuka ranselnya, mengambil lipatan serbet, lalu menawarkan roti jagung dan keju.

Secara bergiliran para santri menawarkan bekal yang mereka bawa. Waktu telah berlalu, mereka makan dan ngobrol tentang apa yang telah terjadi, sampai saatnya sholat Azhar. Mereka menjalankan sholat dengan khusyuk, dan sebelum pulang salah satu satri mengajukan permintaan.

“Ustaz, perintahlah dan berilah kami nasehat.”

Ustaz Kunta-Khadji menjawab permintaan mereka.

“Ustaz akan berbicara tentang empat hal. Dua diantaranya sebaiknya kalian lupakan, dan dua lainnya harus selalu kalian ingat. Pertama : Lupakan tentang kebaikan yang sudah kalian lakukan pada orang lain. Jika kalian membicarakannya dihadapan orang lain, kalian tidak mendapatkan ganjaran. Kedua : Lupakan kejahatan yang sudah dilakukan orang terhadapmu. Karena dengan melupakannya kalian akan menjauhi kejahatan, dan sekaligus kejahatan akan meninggalkan kalian. Tetapi jangan lupa – ingatlah selalu – bahwa kita akan meninggal, dan kita akan menghadap Allah.” Begitulah perintah yang diberikan Ustaz Kunta-khadji pada pengikutnya.