Mengampuni adalah Kuasa Ilah

oleh Yousef Bashir
seperti diceritakan kepada Anthony Manousos

Trev Wong

Nama saya Yousef dan  saya seorang (warga negara) Palestina. Saya anak keempat dari tujuh bersaudara. Sejak kecil sampai umur tiga belas tahun, saya tinggal di Jalur Gaza bersama ayah, ibu, nenek, dan empat saudaraku. Kami tinggal di rumah berlantai tiga di desa Deir el-Balah di samping pemukiman orang Israel Kfar Darom. Saat hidup di Gaza, saya tidak banyak berpikir tentang politik atau kemiskinan yang ada di sekeliling saya. Saya senang bermain olahraga, terutama sepak bola. Saya bermimpi menjadi seorang bintang sepak bola.

Pada tahun 2000 keadaan berubah ketika kekerasan terjadi antara Israel dan Palestina. Desa kami terkepung. 

Suatu hari pintu diketuk dengan keras. Ketika Ayah membukakan pintu, sekelompok tentara Israel bersenjata dengan senapan M-16 memelototinya.

“Anda harus pindah,” kata mereka. “Rumah ini terlalu dekat dengan pemukiman Israel. Ini berbahaya bagi Anda untuk menetap di sini.”

“Mengapa saya harus meninggalkan rumahku?” tanya ayah. “Saya tidak melakukan kesalahan.”

“Jika Anda tinggal di sini,” kata tentara itu, “Anda akan membayarnya, dan harganya mahal.”

Dia menjelaskan tentang resiko yang mengancam jiwa jika tetap tinggal di sini. Ketika tentara pergi, kami sekeluarga membahas apa yang harus dilakukan. Ibu saya ketakutan dan ingin segera pindah. Semua tetangga telah meninggalkan rumahnya dan rumah mereka telah dihancurkan. Tetapi ayah saya mempunyai gagasan yang berbeda.

“Kalau kalian mau pergi silahkan,” katanya. “Tetapi jika kita pergi, mereka akan menghancurkan rumah kita dan kita tidak akan pernah melihatnya lagi. Saya akan tetap disini, apapun yang terjadi.” Ayah berbicara dengan keyakinan yang sangat kuat, maka kita semua memutuskan untuk tetap tinggal disini.

Tetapi untuk tetap tinggal di rumah sendiri setiap hari mengalami kesulitan. Tentara Israel juga menempati rumah kami. Mereka menutupi atap rumah kami dengan jaring kamuflase dan kawat berduri. Kemudian mereka memasang tempat senapan mesin dan kamera. Kami tidak bisa lagi hidup wajar.

Tentara menempati lantai atas rumah kami. Tak seorangpun diizinkan masuk, kecuali tentara dan orang-orang yang telah diizinkan, seperti wartawan dan pekerja PBB.

Bahkan kamipun tidak diperbolehkan memasuki lantai kedua dan ketiga. Tentara menamakan ruangan itu “Daerah C,” pemerintahan militer Israel menjalankan operasinya dan orang Palestina tidak memiliki kekuasaan di sana.  Kami bertujuh tinggal di ruang tamu sampai malam hari, ruang tersebut dinamakan “Daerah A.” Di “Daerah A” orang Palestina memiliki kekuasaan, tetapi kami menyebutnya ‘penjara’. Kamar mandi, dapur dan kamar tidur dinamakan “Daerah B” — tempat dimana orang Palestina bisa mengelola sendiri, tetapi tentara Israel memiliki kontrol keamanan. Adikku menempelkan nama-nama di pintu-pintu rumah. Untuk pergi ke dapur, kami harus meminta izin. Jika kami pergi ke kamar mandi, seorang tentara harus mendampingi.

Hal ini berlangsung selama lima tahun. Hidup kami dikuasai oleh tank, tentara, tembakan, roket, dan kehancuran yang tampaknya tak akan berakhir.

Bagaimana kami bisa bertahan dalam waktu yang gila ini, saya tidak tahu. Mungkin karena kecintaan pada rumah kami, yang memberi kekuatan pada kami untuk bisa tetap bertahan. Mungkin keyakinan kami bahwa kita semua adalah manusia, yang entah bagaimanapun bisa hidup bersama. Ayah sering berkata, “Kita semua anak Abraham. Kita orang Palestina memiliki hak untuk hidup dalam damai begitu juga orang Israel.” Tetapi hatiku tidak pernah benar-benar percaya. 

Sepertinya hidup tidak mungkin akan lebih buruk, tetapi bisa dan akhirnya memang terjadi.

Suatu hari datang beberapa pekerja PBB, yang memiliki izin mengunjungi kami. Mereka sangat baik, dan saya merasa nyaman. Saya cerita bagaimana tim sepak bola saya baru saja memenangkan pertandingan. Salah satu dari mereka memuji baju sepak bolaku: di bagian atas tertulis nama tim Italia favorit saya – Roma. Aku berdiri di luar rumah, lalu melambaikan tangan kepada para pekerja PBB tersebut.

Kemudian terjadilah sesuatu yang mengerikan. Seakan-akan ada sesuatu menembus tubuhku dari belakang. Awalnya tidak sakit, tapi rasanya sangat aneh.

“Pak,” kataku, “saya ditembak.”

Ayah tampak terkejut, dan ketakutan. Begitu pula seluruh keluargaku.

Lalu aku tergeletak ke tanah.

Ayah bergegas mendekat dan merangkul.

“Nak, apakah kamu baik-baik saja?” tanyanya.

“Tentu saja, Pak,” kataku. “Saya baik-baik saja. Hari ini saya lulus tes matematika, dan saya, saya mendapat nilai baik untuk pelajaran sejarah … dan …. tim saya menang …. “

Kemudian rasa sakit menyerangku. Terasa begitu kuat sehingga saya mengucapkan Syahadat, kata-kata orang Islam ketika mau meninggal.

“Semua akan baik-baik saja, Nak,” kata ayahku. “Kamu tidak akan mati.”

Dia mengatakan seolah-olah memang benar. Itulah cara Ayahku. Dia tidak pernah menyerah. Dia memanggil ambulan, dan saya dibawa ke rumah sakit di Kota Gaza. Tetapi dalam perjalanan saya pingsan.

Ketika terbangun, saya sangat mengantuk. Saya tahu saya berada di rumah sakit di tempat tidur besar berwarna putih dan ada sesuatu mengganjal di lengan –  yaitu infus.  Ayah duduk di samping tempat tidur. Dia tersenyum ketika melihat aku sadar.

“Apa yang terjadi?” tanyaku dengan gugup.

“Punggungmu tertembak,” katanya. “Pelurunya bersarang di tulang belakang. Dokter mengatakan terlalu berbahaya jika dioperasi. Tetapi kamu akan baik-baik saja. Kamu akan selamat.” Saya mencoba menggerakkan kaki, tetapi tidak bisa. “Pak,” kataku, “Aku tidak bisa menggerakkan kakiku…. Apakah aku bisa berjalan?”

Awalnya Ayah tidak berkata apa-apa. Lalu ia berkata, “Jika Tuhan menghendakinya, nak. Dokter melakukan apa saja yang mereka bisa.” 

Saya tahu dokter melakukan yang terbaik, tetapi mereka tidak memiliki perlengkapan medis. Saya tak berdaya, seolah-olah hidup saya sudah berakhir. Aku berumur lima belas tahun, mungkin aku tidak bisa berjalan dan tidak bisa bermain sepak bola lagi. Saya sangat tertekan dan tak bisa berkata-kata. Aku shock.

Beberapa hari kemudian, saya dibawa ambulan menuju ke rumah sakit yang lainnya. Saya tidak ingat. Rasanya seperti mimpi buruk. 

Ketika sadar, saya berada di rumah sakit yang berbeda. Para perawat dan dokternya berbicara dalam bahasa Ibrani! Aku tidak percaya.

“Dimana saya?” tanyaku. Itu kata-kata pertamaku dalam beberapa hari. 

Ayahku duduk di samping tempat tidur. Di belakang ayah ada perawat seorang Israel. Ketika dia melihat saya membuka mata dan berbicara, dia tersenyum. 

“Dia sudah sadar,” katanya. Suaranya baik dan lembut, seperti suara ibuku.

Itu pertama kalinya seorang Israel tersenyum padaku. Dan pertama kalinya juga saya melihat orang Israel yang bukan tentara.

Selama beberapa minggu dan beberapa bulan, saya melihat banyak orang Israel – dokter, perawat, anak-anak, orang tua. Para dokter yang mengunjungi saya, tersenyum dan bercanda. Perawatnya juga baik-baik semua. Hal ini membingungkan saya. Apakah orang Israel benar-benar manusia? Setelah beberapa minggu, ayah dan ibu saya harus kembali ke Gaza, dan saya ditinggalkan sendirian. Saya rindu pada mereka dan merasa gugup tinggal sendirian bersama orang-orang Israel.

Ada keluarga Yahudi mengunjungi anaknya yang berada satu ruang dengan saya. Awalnya, mereka kecewa karena anaknya satu ruangan dengan anak orang Arab. Tetapi ketika mereka mengetahui apa yang terjadi pada saya, dan mengetahui bagaimana kesepiannya saya, mereka mulai bersikap baik. Mereka memberikan hadiah kecil dan memastikan kalau saya mempunyai makanan dan air yang saya butuhkan. Saya tidak akan pernah melupakan mereka. 

Tahun-tahun berikutnya saya berjuang untuk memulihkan kesehatan. Selama ini saya sering berdiskusi dengan ayah tentang arti kejadian tersebut. Mengapa banyak orang harus terluka dan mati? Apakah mungkin ada pengampunan?

Sedikit demi sedikit sikap saya berubah. Saya memahami memang satu tentara Israel telah menembak saya, tetapi banyak orang Israel telah bekerja untuk menyelamatkan hidup saya.

Saya juga sadar bahwa apa yang ayah dan ibu katakan itu benar : orang Israel juga manusia seperti saya. Dan ini pertama kalinya dalam hidup saya merasa benar-benar menjadi manusia. Saya ingin melakukan sesuatu untuk mengubah dunia, dan membuatnya lebih damai.

Dokter tidak mengeluarkan peluru dari tubuh saya. Selama tujuh bulan saya tinggal di rumah sakit tanpa bisa berjalan. Tetapi hari ini saya bisa berjalan dengan baik meskipun masih ada peluru di tulang belakang saya dan kemungkinan akan tetap bersarang di sana.

Akhirnya saya mendapat kesempatan menjadi pembawa damai. Saya belajar di sebuah program yang disebut “Benih Perdamaian” (Seeds of Peace). Program ini mempersatukan remaja Israel dan Palestina di kamp di negara bagian Maine di Amerika Serikat. Para remaja diberi kesempatan untuk curah pikiran, belajar satu sama lain, dan menjalin persahabatan. Aku pergi ke Maine dan menghabiskan musim panas dengan sekelompok remaja Israel dan remaja Palestina.

Ada beberapa pemuda Palestina di kamp, juga teman-teman di rumah, ketika mendengar cerita saya, mereka ingin menunjukkan keburukan orang Israel. Saya tidak mengijinkan mereka menggunakan cerita saya untuk menunjukkan keburukan orang Israel. Tetapi mereka menjadi marah, “Kenapa denganmu, Yousef? Kamu berpihak kepada siapa, mereka atau kami?”

Saya tidak ingin memihak. Dalam hati saya tahu kalau “berbuat salah adalah manusiawi, sedangkan memaafkan adalah kuasa Ilahi.” Jadi saya berteman dengan orang Israel dan orang Palestina. Memang sulit. Bahkan beberapa anggota keluarga saya sendiri menolak saya karena dianggap menjadi “pengkhianat.” Tetapi ayah dan ibu selalu memberikan dukungan sepenuhnya.

Ketika saya kembali ke Gaza, salah seorang tentara Israel, bernama Ori, yang ditugaskan di rumah, tertarik pada ceritaku. Kami banyak waktu berdiskusi tentang perdamaian. Saya mengatakan meskipun ada peluru di punggung saya selama sisa hidupku, saya akan tetap melakukan apapun yang saya bisa untuk menjadi pembawa damai. Ori sangat prihatin, dan saya menyarankan beliau harus berpikir untuk menjadi seorang konselor di kamp Benih Perdamaian. Setelah selesai berbincang-bincang, saya memberinya kaos Bibit Perdamaian (Seeds of Peace). 

Ori tersenyum hangat. 

“Terimakasih,” katanya. “Saya akan memakainya ketika saya selesai dinas militer.”