Kembali Bertemu

oleh Zalpa Bersanova

Asya Ymarova, age 16

Vica Teppor, age 8, Chechnya

Gleb Komarov, age 9 ink and watercolor

Karimov Alkhazur, age 16

Unknown

Maleka Saeva, age 19, Chechnya

Alexey belum pernah melihat ayahnya. Ada foto di almari di kamar ibunya. Dimanakah laki-laki yang ada di foto itu? Apa yang terjadi dengannya? Ibu tidak pernah menceritakannya.

Setelah dewasa  Alexey masuk tentara. Saat ia mendapat tugas ke Chechnya, akhirnya ibunya menceritakan tentang siapa ayahnya. “Ayahmu orang Chechnya,” katanya. “Kami terlalu berbeda untuk hidup bahagia bersama. Kemudian ayahmu pulang ke Chechnya. Ibu berharap dia menikah lagi dan hidup bahagia. Banyak cara yang sebelumnya ibu lakukan agar kamu tidak mengetahuinya, meskipun dia mengirim uang untuk mencukupi kebutuhanmu. Cari dan tolonglah Ayahmu. Semua ini tidak mudah. ” Itu saja yang bisa ibu katakan. Kemudian ibu memberikan alamatnya.

Dengan mudah Alexey menemukan desa, jalan, dan rumah batanya. Dia mengendarai mobil lapis baja menuju pagar depan rumah dan berharap bisa bertemu kembali dalam suasana gembira.

Dia merasa gugup saat mengetuk pintu. Perempuan yang membukakan pintu terlihat sangat takut. Beberapa anak yang berpakaian lusuh bersembunyi di belakangnya.

“Jadi mereka saudara-saudaraku,” Alexey berfikir. 

“Dimana ayahku?” Alexey bertanya dalam Bahasa Rusia.

“Dia tidak di sini,” perempuan itu berusaha menggunakan Bahasa Rusia. “Sudah lama dia meninggalkan kami dan saya tidak tahu kemana perginya.” Anak – anak menganggukkan kepala membenarkan.

Mereka melihat tentara ini seperti anak serigala yang ketakutan.

“Mereka pasti berfikir aku datang untuk membawa ayahnya pergi seperti laki-laki lain di Chechnya. Mereka mengira aku membohonginya, sehingga mereka pasti merahasiakan keberadaannya.” Alexey berfikir dalam hatinya.

Keesokan harinya, Alexey datang lagi, dengan berharap dapat bertemu ayahnya. 

Pagarnya tertutup. Perempuan itu membukakan pintu lagi. Anak-anak yang berpakaian kotor dengan wajah hitam karena sengatan matahari juga ada di sana. Mereka tetap menjaga rahasianya, dan menolak mengatakan keberadaan ayahnya.

Alexey menghela nafas lalu pergi. Jelas, nasib telah menakdirkan kalau dia dan ayahnya akan tetap tidak saling mengenal.

Masa tugasnya hampir berakhir, tetapi kemudian kata-kata ibunya kembali terngiang :  “Pastikan menemukan ayahmu dan membantunya.”

Esok harinya, Alexey bangun lebih awal dari biasanya. Dia pergi ke pasar membeli permen untuk anak-anak, sekarung tepung dan sekarung gula untuk ibunya. Daripada memakai mobil tentara, dia menyewa mobil umum untuk mengangkutnya.

Kemudian Alexey memakai pakaian biasa dan menunju ke rumah.

Dia disambut dengan lebih ramah. Dia senang melihat mata anak-anak bersinar-sinar saat ditawari hadiah. Anak laki-laki tertua membantu Alexey mengangkat karung-karung dari bagasi mobil.

Sementara, perempuan itu mengatakan sesuatu pada anak bungsunya, yang kemudian bergegas berlari masuk rumah. Tak lama kemudian, seorang pria tua keluar menuju halaman depan. Dia menatap tamunya lalu menemuinya.

Alexey menyeka keringat dari dahinya dan mengangkat wajahnya. Dia menatap wajah dengan senyum yang lebar, wajah yang sama di foto di almari ibunya.

“Halo, Ayah,” sapa Alexey. Saat yang membahagiakan, yang ditunggu Alexey sejak kecil.