Allah Maha Pengampun Mungkin Allah Memerlukan Aku

Oleh Patricia Cockrell

Alicia Homichenko, age 16

Saat dia tumbuh dewasa, semua orang menyukai Shaman, dia menyayangi semua orang dan perhatian terhadap segala hal. Dia tinggal bersama orang Rusia, di sebuah desa Muslim yang bernama Desa Sernovodsk di Negara Chechnya. Sebuah kota kecil yang asri di lembah hijau, dengan peternakan kecil dikelilingi perbukitan. Masyarakat bangga mereka mempunyai sekolah dan perguruan tinggi jurusan pertanian. Banyak orang senang berkunjung ke pemandian belerang panas. Kehidupan yang baik terjadi di Sernovodsk.

Sebelum perang, Shaman bekerja di pabrik roti, tetapi itu hanya bagian dari apa yang dia lakukan. Dia tertarik di bidang mekanik, elektronik, konstruksi dan musik Beethoven serta musik rock. Dia terkenal karena memiliki keahlian memperbaiki segala sesuatu, dari memperbaiki mobil hingga mesin jahit. Dia disukai karena orangnya ceria, dan tidak seorangpun membayangkan kalau dia akan menjadi seorang pahlawan.

Ketika berusia 24 tahun, dia memutuskan harus mendapatkan banyak uang untuk membantu orang tuanya dan adik-adiknya, sehingga dia meninggalkan keluarga, pekerjaan, teman-teman serta hobinya lalu pergi ke Moskow untuk mencari pekerjaan yang memberikan upah yang lebih besar. Tetapi dia tidak tinggal lama di Moskow. Mulailah terjadi permasalahan di desanya. Semua orang takut perang akan terjadi dan ternyata memang terjadi.

Ketika Shaman mendengar hal itu, dia langsung naik pesawat di penerbangan yang pertama untuk kembali ke Sernavodsk. Kebetulan ada wartawan asing di pesawat tersebut sehingga Shaman punya kesempatan berbicara dengan mereka. Mereka menawarkan $1.000 kepada Shaman untuk menjadi pemandu dan sopirnya dalam perjalanan ke kota Grozny, Ibu Kota Chechnya, dimana pertempuran terjadi. Dan Shaman menerima tawaran tersebut.

Di Grozny Shaman menemukan dunia yang penuh kengerian – ada bom dan mayat, banyak bangunan hancur, kaca-kaca pecah dan puing-puing bangunan, perabotan patah dan barang-barang berserakan di mana-mana. Di atas tumpukan itu, dia melihat sebuah foto pernikahan dan membayangkan di mana pasangan pengantin yang tersenyum itu berada.

Yang lebih mengherankan, dia mendapatkan ada orang yang masih hidup di tengah-tengah keadaan semacam itu, yang bertempat tinggal di ruang bawah tanah. Korbannya sebagian besar orang Rusia, tetapi ada orang Chechen dan Azeri serta suku-suku lain juga. Mereka meringkuk, takut dan tak berdaya, tanpa makanan, air, pemanas, ataupun cahaya. Mereka tidak lagi memperdulikan perbedaan suku bangsa.

Shaman berjanji, Insya Allah, dia akan membawa makanan, air minum dan obat-obatan. Dan dia menepati janjinya, tidak hanya sekali saja tetapi berulang kali dia membelikan bahan persediaan pangan dengan menggunakan uang yang diperoleh dari wartawan tersebut. Adik Shaman, yang bernama Adlan, seringkali membantunya. Entah bagaimana caranya, melalui jalan tikus Shaman dan Adlan berlari dan berkelit, akhirnya mereka berhasil menghindari penembak jitu dan mengambil bahan sembako, bahkan dapat membawa orang-orang sakit dan terluka. Suatu kali, mobil Shaman ditembak, dan dia sering mendengar suara peluru, tetapi entah bagaimana semua peluru tidak mengenainya. Bahkan ia pernah mengganti ban ditengah-tengah baku tembakan.

“Allah Maha Pengampun,” katanya pada diri sendiri. “Mungkin Allah membutuhkan aku.”

Kemudian desanya diblokir dan keadaan desa menjadi lebih berbahaya dan sulit untuk keluar masuk. Pernah sekali Shaman berjalan kaki 43 kilometer melintasi pegunungan dengan membawa bahan makanan dan obat-obatan bagi korban di desa lain yang telah dibom. Ketika dia mengetahui bahwa tentara Rusia juga kedinginan dan kelaparan, ia bahkan membawa makanan untuk mereka juga. Bagi Shaman, orang yang kekurangan tidak bisa dianggap musuh. 

Sementara itu, masyarakat di desa Shaman tidak mengizinkan perang menguasai atau mewarnai seluruh hidupnya. Mereka mendirikan tenda-tenda perdamaian di sepanjang jalan utama di desanya. Mereka mengadakan doa secara rutin di Masjid darurat di sekitar api unggun. Selama musim salju mereka tinggal di tenda-tenda tersebut.

Tetapi ketika musim semi tiba, Sernovodsk dibom dan ribuan orang melarikan diri dari Chechnya – keluarga Shaman juga ada di antara mereka. Untungnya, Shaman dan keluarganya selamat dari pengeboman. Dan selama berbulan-bulan tinggal di pengungsian bersama teman-teman di Ingushetia.

Bahkan saat itu juga, Shaman tetap bekerja untuk perdamaian dan hak asasi manusia. Dia tahu tak ada orang yang menginginkan perang, demikian juga orang-orang Chechnya maupun teman-teman Rusia. Dia sangat menantikan saatnya dapat kembali ke negaranya dan membesarkan keluarganya dalam suasana damai.

Tibalah saatnya. Pertempuran berakhir. Shaman, Adlan dan seluruh keluarga serta teman-temannya kembali ke Sernovodsk. Mereka mendapati sebagian besar desa telah dihancurkan dan lebih dari 400 rumah hilang, tetapi mereka langsung mulai membangun kembali. Hal terbaik dari semua itu adalah Shaman akhirnya menemukan dan menikah dengan gadis cantik pujaannya, yang bernama Milana. Sekarang mereka mempunyai seorang bayi perempuan bernama Diana, yang lahir bertepatan pada hari Natal.

Shaman, Adlan dan teman-temannya menyadarkan kita kembali, meskipun di saat yang mengerikan, jiwa manusia bisa jauh lebih kuat dari kekerasan dan kebencian yang berusaha menguasainya.